"Hadits Cara Mengajar Secara Bertahap"

Segala puji serta syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Ridho-Nya sehingga saya dapt menyelesaikan makalah ini, untuk kali ini saya akan membagikan makalah mengenai "Hadits Cara Mengajar Secara Bertahap". Silahkan baca para Pembaca semuanya, ataupun bisa kalian jadikan referensi untuk ilmu pengetahuan adana. Jika kalian ingin filenya, Kalian bisa langsung DOWNLOAD saja DISINI !!!



BAB I
PENDHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan, baik pembelajaran formal maupun pembelajaran informal, diarahkan untuk menggapai tujuan pendidikan. Menurut Muhammad Amin, pendidikan sejatinya tidak hanya mencakup dimensi akal, tetapi juga merambah dimensi badan, perasaan, kehendak, dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat-bakat dan kemampuannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi-potensi kejiwaan itu dapat diaktualisasikan secara sempurna.
Lebih jauh, Abuddin Nata menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia agar menjadi khalifah Allah di muka bumi. Akan tetapi, implementasi tujuan pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi suatu masyarakat, terutama peserta didik. Dengan demikian, implementasi tujuan pendidikan tersebut disesuaikan dengan bakat dan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik.
Untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diharapkan, diperlukan suatu startegi dan teknik yang sering dikenal dengan metode pembelajaran. Secara definitif, metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan
Telah kita ketahui bersama tentang pentingnya “tafaqquh fid diin“. Terlebih lagi di zaman sekarang, ilmu agama semakin sedikit orang yang mempelajarinya, sehingga yang banyak adalah orang-orang jahil namun mengaku berilmu. Ilmulah yang akan melindungi kita dari badai fitnah yang terus melanda.Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu syar’i merupakan amal yang sangat mulia, bahkan ganjaran bagi orang yang menuntut menuntut ilmu sama halnya dengan orang yang pergi berjihad di jalan Allah sampai ia kembali. Namun perbuatan yang mulia ini, jika tidak diiringi dengan metode belajar yang benar, akan menjadi tidak teratur dan semrawut, serta hasil yang didapat pun tidak akan maksimal. Maka dari itu sangat penting bagi setiap penuntut ilmu untuk memperhatikan bagaimanakah cara belajar yang semestinya ditempuh.




B.Rumusan Masalah
1. Bagaiman hadis mengenai belajar secara bertahap?
2. Apa saja tahapan belajar dalam hadis tersebut?
3. Apa keutamaan belajar secara bertahap?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui hadist mengenai cara mengajar secara bertahap
2.Untuk mengetahui tahapan belajar dalam hadis tersebut
3. Untuk mengetahui Keutamaan belajar secara bertahap

BAB II
PEMBAHASAN


1.Hadits Cara Mengajar Secara Bertahap
Hadits dan Terjemah

ﺤﺪﺜﻨﺎ ﺍﻤﻴﺔ ﺍﺒﻦﺑﺴﻁﺎﻢ ﺤﺪﺜﻨﺍ ﻴﺯﻴﺪ ﺒﻦ ﺯﺮﻴﻊ ﺤﺪﺜﻨﺎ ﺭﻭﺡ ﺑﻦ ﺍﻠﻘﺎﺴﻢ ﻋﻦ ﺍﺴﻤﺎﻋﻴﻞ ﺒﻦ ﺍﻤﻴﺔ ﻋﻦ ﻴﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻋﺑﺪ ﺑﻦ ﺼﻘﻲ ﻋﻦ ﺍﺑﻲ ﻤﻌﺑﺪ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺑﺎﺲ ﺮﺿﻲﷲﻋﻨﻬﻤﺎ ﺍﻦ ﺭﺴﻭﻞﷲ ﺻﻟﻰﷲﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻡ ﻟﻤﺎﺑﻌﺚ ﻤﻌﺎﺫﺍ ﺮﻀﻲﷲﻋﻨﻪ ﻋﻟﻰﺍﻠﻴﻤﻦ ﻘﺎﻞ ﺍﻨﻚ ﺘﻘﺩﻢ ﻋﻟﻰﻘﻭﻢ ﺍﻫﻞ ﻜﺗﺎﺏ ﻔﻟﻴﻜﻦ ﺍﻭﻞ ﻤﺎﺘﺪﻋﻮﻫﻢ ﺍﻟﻴﻪ ﻋﺑﺎﺪﺓ ﺍﷲ ﻔﺈﺬﺍ ﻋﺭﻔﻭﺍ ﺍﷲ ﻔﺄﺨﺑﺭﻫﻡ ﺍﻦﷲ ﻘﺪ ﻓﺭﺽ ﻋﻠﻴﻬﻡ ﺧﻣﺱ ﺼﻠﻭﺍﺕ ﻓﻲ ﻴﻭﻤﻬﻡ ﻭﻠﻴﻠﺗﻬﻡ ﻓﺈﺫﺍ ﻓﻌﻠﻭ ﻓﺎﺨﺑﺮﻫﻡ ﺍﻦﷲ ﻓﺭﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺯﻜﺎﺓ ﻤﻦ ﺍﻤﻭﺍﻟﻬﻡ ﻭﺗﺭﺩ ﻋﻟﻰ ﻓﻘﺭﺍﺋﻬﻡ ﻓﺈﺬﺍ ﺃﻄﺎﻋﻭﺍ ﺑﻬﺎ ﻓﺧﺬ ﻤﻧﻬﻡ ﻭﺘﻭﻖ ﻛﺭﺍﺌﻡ ﺍﻤﻭﺍﻞ ﺍﻠﻧﺎﺱ
Artinya:
 Dari ibnu Abbas ra. Berkata: sesungguhnya rasulullah bersabda: beliau mengutus mu’adz ra. Ke yaman. Beliau bersabda: sesungguhnya kami mendatangi masyarakat ahli kitab, maka hendaknya yang pertama kali ajaran yang kamu serahkan kepada mereka adalah kepada Allah. Lalu jika mereka mengenang allah, lalu beritahukan mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat kepada mereka lima kali sehari semalam, lalu apabila mereka sudah melaksanakannya maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka membayar zakat hartanya, dan zakat itu di berikan kepada fakir-miskin di antara mereka. Kemudian apabila mereka telah mematuhinya maka terimalah dari mereka, berhati-hatilah jangan sampai kamu mengambil harta kesayangan mereka.
. Sanad Hadits

ﺭﺴﻭﻞﷲ ﺻﻟﻰﷲﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻡ
ﺍﺑﻦ ﻋﺑﺎﺲ
ﺍﺑﻲ ﻤﻌﺑﺪ
ﻴﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﻋﺑﺪ ﺑﻦ ﺼﻘﻲ
ﺍﺴﻤﺎﻋﻴﻞ ﺒﻦ ﺍﻤﻴﺔ
ﺭﻭﺡ ﺑﻦ ﺍﻠﻘﺎﺴﻢ
ﻴﺯﻴﺪ ﺒﻦ ﺯﺮﻴﻊ
ﺍﻤﻴﺔ ﺍﺒﻦﺑﺴﻁﺎﻢ

.
. Asbabul Wurud
Hadist di atas terjadi ketika nabi Muhammad mengutus sahabat mu’adz bin jabal untuk berdakwa di yaman pada tahun 10 hijriyah, menjelang haji wada’, di mana sekitar empat bulan lagi beliau wafat. Mu’adz tidak di tugaskan untuk tidak mengajarkan agama islam secara sekaligus, melainkan secara bertahap dan tanpa adanya paksaan.
2. Tahapan Belajar Menurut Hadist Tersebut
Dalam hadits tersebut terkandung beberapa pelajaran penting yang harus di ketahui oleh semua orang yang beriman, terutama para mahasiswa dan dosen, mengenai keteladanan rasulullah dalam menggunakan metodelogi pengajaran di antaranya:
1.      Metode graduasi (Al-Tadarruj), Metode ini merupakan metode Al-Qur’an dalam membina masyarakat. Demikian pula dalam menanamkan aqidah, dakwa dan pengajaranini di sampaikan secara bertahap dan memerlukan tahap matang dan di sesuaikan dengan kemampuan daya tangkap masyarakat atau tingkatan pengertian mereka. Namun tampaknya metode ini dalam pendidikan nabi SAW. Bukan karena secara graduasi melainkan juga merupakan kebijaksanaan nabi SAW. Sendiri dalam pendidikan, hal ini di harapkan oleh peserta didik mengerti dan segera di laksanakan.
2.      Materi dakwah dan pengajaran pokok yang di sampaikan adalah mengenai keimanan, setelah itu rasulullah SAW. Menuntun mengucapkan kalimat syahadat.
3.      Setelah masyarakat beriman barulah rasulullah memberikan konsekuensi syahadat bahwa syahadat itu mewajibkan sholat lima waktu sehari semalam, kesadaran menunaikan ibadah menjadi bukti kebenaran mereka kepada Allah.
4.      Tahap berikutnya pemberitahuan kewajiban menbayar zakat hartanya, di mana hal itu merupakan kesadaran bentuk rasa tanggung jawab sosialdan itu menjadi bukti kebenaran islam.
5.      Hadist tersebut mengandung pengertian bahwa para guru tidak boleh memaksa anak didiknya dan menyesuaikan dengan kemampuan pola pikir mereka
Dalam hadist ini terdapat pelajaran tentang tahapan dalam berdakwah dan mempelajari ilmu, yakni memulai dari yang paling penting kemudian dilanjutkan perkara penting yang di bawahnya.
Hal yang paling penting dan mendesak dipelajari saat ini adalah ilmu tauhid, karena tauhidlah sumber kebahagiaan dunia dan akherat. Selain itu, kenalilah lawan dari tauhid yaitu syirik dengan perinciannya. Juga imu tentang aqidah yang mencukup keenam rukun iman. Demikian pula perkara-perkara ibadah wajib maupun sunnah yang rutin dikerjakan siang dan malam, serta perkara-perkara yang berhubungan dengan muamalah.
Dasar Tasyri/Dasar Hukum dalam Al-Qur’an
Dalam firman Allah yang menjelaskan tentang guru yang tidak boleh memaksa anak didiknya dan menyesuaikan dengan kemampuan pola pikir mereka di antaranya adalah:
a. surat Al-Baqarah : 256
Iw on#tø.Î) Îû ÈûïÏe$!$# ( s% tû¨üt6¨? ßô©9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3tƒ ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãƒur «!$$Î/ Ïs)sù y7|¡ôJtGó$# Íouróãèø9$$Î/ 4s+øOâqø9$# Ÿw tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ììÏÿxœ îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ

Artinya :
 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

b. surat An-Nahl : 125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

3. Keutamaan Belajar Secara Bertahap
Dalam menuntut ilmu sangat dibutuhkan kesabaran. Seseorang yang tidak sabar dalam menuntut ilmu, kerapkali berbuntut pada kebosanan dan dan akhirnya putus di tengah jalan. Semangatnya begitu membara di awal, tetapi setelah itu padam tanpa bekas. Apa masalahnya? Di antara masalahnya adalah metode menuntut ilmu yang tidak tepat, pembelajaran yang tidak berjenjang, dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar. Semestinya, seseorang mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, tentu saja disertai dengan semangat juang yang tinggi. Seseorang yang menuntut ilmu ibarat menaiki sebuah tangga. Untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga tersebut, maka dia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu. Jika ia memaksakan untuk langsung menuju puncak, maka niscaya dia tidak akan mampu atau akibatnya dia akan celaka.
Ketahuilah, jika seseorang tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, niscaya dia justru akan kehilangan seluruhnya, karena ilmu didapat seiring dengan berjalannya siang dan malam, setahap demi setahap dengan penuh kesabaran, bukan sekali dua kali duduk di manjelis atau sekali dua kali baca. Oleh karena itu para ulama sering menjelaskan :           
Barangsiapa yang tidak menguasai materi-materi ushul (pokok/dasar), dia tidak akan memperoleh hasil
Para ulama juga sering mengingatkan :          
Barangsiapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, akan banyak pula ilmu yang hilang” [Dinukil dariHilyatu tholibil ‘ilmi, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid hafidzahullah]
Maka dengan belajar secara bertahap ilmu akan mudah untuk dipahami karena sesuai dengan pola pikir dan perkembangan.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dalam menuntut ilmu sangat dibutuhkan kesabaran. Seseorang yang tidak sabar dalam menuntut ilmu, kerapkali berbuntut pada kebosanan dan dan akhirnya putus di tengah jalan. Semangatnya begitu membara di awal, tetapi setelah itu padam tanpa bekas. Apa masalahnya? Di antara masalahnya adalah metode menuntut ilmu yang tidak tepat, pembelajaran yang tidak berjenjang, dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar. Semestinya, seseorang mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, tentu saja disertai dengan semangat juang yang tinggi. Seseorang yang menuntut ilmu ibarat menaiki sebuah tangga. Untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga tersebut, maka dia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu. Jika ia memaksakan untuk langsung menuju puncak, maka niscaya dia tidak akan mampu atau akibatnya dia akan celaka
Pendidikan Adalah Usaha Untuk Membentuk Kepribadian Dengan Metode Yang Benar. Rasulullah telah bersungguh-sungguh mendidik sahabat dan generasi muslim, hingga mereka memiliki kesempurnaan Akhlak dan ilmu pengetahuan.
Tahapan dalam berdakwah dan mempelajari ilmu, yakni memulai dari yang paling penting kemudian dilanjutkan perkara penting yang di bawahnya.Hal yang paling penting dan mendesak dipelajari saat ini adalah ilmu tauhid, karena tauhidlah sumber kebahagiaan dunia dan akherat. Selain itu, kenalilah lawan dari tauhid yaitu syirik dengan perinciannya. Juga imu tentang aqidah yang mencukup keenam rukun iman. Demikian pula perkara-perkara ibadah wajib maupun sunnah yang rutin dikerjakan siang dan malam, serta perkara-perkara yang berhubungan dengan muamalah.
Sebagai seorang guru muballigh di dalam mengajar atau berdakwah harus menyesuaikan dengan kemampuan daya tangkap masyarakat yang di hadapinya dengan menggunakan bahasa, istilah yang di mengerti,sehingga masyarakat dapat dengan mudah mencerna pengajaran dan dakwah yang telah disampaikan janganlah sekali-kali memaksakan apa yang mereka tidak mampu dan mengikuti contoh yang di Berikan oleh nabi.
Kemudian dalam islam pula tidak dibenarkan mempersulit masalah dan seolah-olah kaku dalam pengajaran yang menjadikan kesan fanatik padahal islam adalah agama yang fleksibel yang setiap orang bisa menjalankan setiap ajaran dan pengetahuan dalam islam karena islam menganjurkan untuk mempermudah dan tidak mempersulit dalam dakwah dan pengajaran sehingga masyarakat senang dengan pengajaran yang disampaikan dan tidak membuat masyarakat menjadi bingung menjalankan syari’at serta pengetahuan dalam islam hanya karena adanya sedikit masalah.

B.Saran


Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat jauh dari sempurna dan banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari dosen pengampu dan mahasiswa sangat kami harapkan