"Hadits Tentang Neraka Terlindung Dari Syahwat"

Untuk pos hari ini, saya memposting mengenai "Hadits Tentang Neraka Terlindung Dari Syahwat"
Jika anda ingin mengshare ulang, saya mohon ikut sertakan kutipan dari blog saya, makasih ^_^
Jika anda ingin File MAKALAH yang sudah jadi, Silahkan DOWNLOAD filenya DISINI !!! :D


Surga atau Jannah secara bahasa artinya taman. Sedangkan maknanya yang dimaksudkan dalam pembicaraan syari’at adalah sebuah tempat tinggal yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang membela agama-Nya yaitu orang-orang yang bertakwa. Di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang tiada tara. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbetik di dalam hati umat manusia.

Sedangkan neraka atau An-Naar secara bahasa artinya api. Adapun yang dimaksudkan dengannya dalam pembicaraan syari’at ialah tempat tinggal yang disediakan Allah ta’ala bagi orang-orang yang memusuhi aturan-Nya. Di dalam neraka itu terdapat siksaan yang tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia dan hukuman berat yang tidak bisa digambarkan. Neraka itu sudah ada sekarang.

Untuk menuju keberadaan surga di akhirat salah satunya dengan cara bersikap Zuhud. Kata zuhud secara harfiah berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, daripada mengejar kehidupan dunia yang fana dan sementara.

Untuk mengetahui hadis-hadis yang berkaitan dengan surga, neraka, dan kezuhudan, akan dijelaskan sebagai berikut:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ. (متفق عليه(

Artinya:Diberi dinding atau (pagar) neraka itu dengan syahwat (yaitu yang merangsang ke jalan keburukan), dan di beri dinding sorga itu dengan sesuatu yang di benci (misalnya malas melakukan kebaikan). (H.R. Bukhari-Muslim)


Hadist di atas menjelaskan bahwa yang di maksud dengan neraka adalah segala sesuatu yang menuju kepada keburukan, misalnya maksiat, berbuat dzalim, dan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Sedangkan surga itu adalah segala sesuatu yang baik dan amar ma’ruf sehingga jauh dari keburukan. 

Neraka adalah tempat penyiksaan bagi mahluk Allah yang membangkang. Mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap syariat Allah dan mengingkari Rasulullah saw. 

Adapula perbuatan yang menjauhkan diri kita dari neraka salah satunya adalah dengan puasa. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa’ (memutuskan) bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dzahir dan kekuatan bathin.

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba’ah [mampu dgn berbagai macam persiapannya] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya” (Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” (Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih).

Dalam hadits lain di katakan :

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْسَأَلْتَ عَنْ   عَظِيْمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلىَ مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ  بِهِ شَيْئاً، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ  الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ : أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ   اللَّيْلِ، ثُمَّ قَالَ : } تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ.. –حَتَّى بَلَغَ-  يَعْمَلُوْنَ{ُ ثمَّ قَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وُعَمُوْدِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . (رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح)



“Dari Mu’adz bin Jabal telah berkata: Ya Rasulullah, beritahulah aku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka.” Nabi menjawab: “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang dimudahkan Allah atasnya. Engkau menyembah allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke baitullah.” Kemudian beliau berkata: “Inginkah engkau kuberi petunjuk akan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan sembahyang seseorang di tengah malam, kemudian beliau membaca ayat: (Qs. Assajdah ayat 16-17). Kemudian beliau bersabda: “Maukah bila kutunjukkan kepadamu pokok-pokok amal, tiang-tiangnya, dan puncak-puncaknya? Aku menjawab: “Ya, ya Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “Pokok amal adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad”. Kemudian beliau bersabada: “Maukah kuberitahukan kepadamu kunci semua perkara itu? Aku menjawab: “Ya, ya Rasulullah”. Maka beliau memegang lidahnya seraya bersabda: “Jagalah ini”. Aku berkata: Ya Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa0 karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda: “Semoga engkau selamat, adakah yang menjerumuskan muka seseorang kedalam neraka selain buah ucapan lidah mereka?” (HR. Tirmidzi dan ia berkata: Hadits itu hasan shahih)

Diantara hadist yang berkenaan dengan neraka terlindungi dari syahwat yaitu dengan menjalankan puasa di bulan ramadhan,karena ramadhan merupakan bulan teragung dalam setahun, di dalamnya ada malam qadar yang lebih baik dari seribu malam, di dalamnya terjadi peristiwa Nuzul al-Quran dan di dalamnya pula diwajibkan puasa satu-satunya ibadah tahunan yang mesti dilaksanakan oleh setiap muslim yang tidak memiliki uzur syar’i. Puasa merupakan proteksi dari perbuatan maksiat “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(QS.al-Baqarah:183). 

Pengertian la’allakum tattaqun pada ujung ayat tersebut menurut Muhammad Ali as-Saabuni adalah “agar kamu menjadi orang yang takut kepada Allah dengan menjauhi segala yang diharamkan-Nya.” (Safwatut Tafasir). Ibnu Qayyim al-Jauzi menerangkan “agar kamu menjadi orang bertaqwa karena puasa merupakan sarana menuju taqwa karena puasa dapat menekan maksiat yang disebabkan oleh nafsu.” (Tafsir Zaadul Masiir).

Imam Fakhruddin ar_Radhi Menjelaskan “Allah menerangkan dengan firmanNya ini bahwa puasa dapat mewarisi takwa karena puasa dapat menghancurkan nafsu dan menundukkan kemauan jahat, karena puasa itu dapat mencegah keburukan, penyelewengan dan kekejian dan memudahkan untuk meninggalkan kelezatan dan kemegahan dunia.Hal ini dikarenakan puasa itu dapat menghancurkan syahwat perut dan kemaluan yang merupakan sumber utama timbulnya kemaksiatan.” (Tafsir Mafaatihul Ghaib). 

Selain puasa,jihad melawan hawa nafsu juga merupakan salah satu hal neraka dapat terlindungi dari syahwat.

Berkata Ibnu Rajab dalam Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal. 369 (Tahqiq Thoriq bin ‘Iwadhullah) : “Ini diriwayatkan secara marfu’ dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah, dan lafazhnya :

قَدِمْتُمْمِنَالْجِهَادِالْأَصْغَرِإِلَىالْجِهَادِالْأَكْبَرِقَالُوْاوَمَاالْجِهَادُالْأَكْبَرُقَالَمُجَاهَدَةُالْعَبْدِلِهَوَاهُ

“Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar. (Mereka) berkata : “Apakah jihad besar itu ?”. beliau menjawab : “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya”.”


Berdasarkan hadits ini, mereka berhujjah bahwa jihad memerangi orang kafir adalah jihad kecil (jihad al-ashghar), sedangkan jihad memerangi hawa nafsu adalah jihad besar (jihad al-akbar).Walhasil, jihad memerangi hawa nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan jihad memerangi orang-orang kafir.Sesungguhnya, kesimpulan semacam ini adalah kesimpulan salah, akibat kesalahan dalam memahami nash-nash syariat.

Sekian artikel utnuk hari ini, tunggu untuk artikel selanjutnya yahhhh :) Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua, Aamiin :)

Jika anda ingin File MAKALAH yang sudah jadi, Silahkan download DISINI !!! :D