"Hadits Tentang Hakikat Neraka"

Untuk pos hari ini, saya memposting mengenai "Hadits Tentang Hakikat Neraka"
Jika anda ingin mengshare ulang, saya mohon ikut sertakan kutipan dari blog saya, makasih ^_^
Jika anda ingin File MAKALAH yang sudah jadi, Silahkan DOWNLOAD filenya DISINI !!! :D


Dalam bahasa arab, dikenal istilah al nar yang mempunyai makna dasar “elemen ringan yang (bisa) membakar” Akar katanya adalah fi’il mujarrod nawaro. Ia memiliki satu rumpun kata dengan nar yang berarti api, dan nur yang berarti cahaya atau sinar,Inilah (mungkin) sebab dari penggambaran identik neraka dengan api.

Secara istilah, banyak versi tentang definisi neraka, Muhammad al syafahy menggambarkannya sebagai sebuah penjara di akhirat, didalamnya terdapat siksa – siksa dan berbagai macam bencana yang tak tergambarkan (dahsyatnya) pada akal manusia... dan tak memiliki sebesar atompun kesenangan. Al ghazaly mendiskripsikan neraka sebagai tempat dengan jalan – jalan yang gelap dan bayang – bayang kemalangan. Di sana manusia dipenjara dan selamanya api dinyalakan. Minuman mereka adalah api yang mendidih. Tempat tinggal mereka adalah api yang bergolak... di depan mereka hanya terbayang kehancuran tanpa jalan keluar. 

Pastinya, Tak ada yang tahu bagaimana bentuk sebenarnya neraka. Beragam penggambaran (bahkan oleh kita sendiri) pastilah berdasarkan dengan informasi yang pernah didapat, dan sesuai dengan pengalaman – pengalaman yang pernah dilakukan. Tapi satu hal yang sama, jika ditanya tentang neraka, tak kan ada yang mengingkari bahwa ia adalah tempat pembalasan dan siksa bagi orang – orang yang ketika di dunianya tidak taat kepada tuhannya.


Dalam memahami bagaimana neraka diciptakan, beberapa ulama, bersandarkan pada sebuah riwayat dalam sunan al tirmidzy. Matan beserta sanad hadis tersebut adalah sebagai berikut :


حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الدُّورِيُّ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمٍ هُوَ ابْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ

“Api neraka dipanaskan selama seribu tahun, sehingga ia me-merah, kemudian seribu tahun lagi sampai ia me-mutih, lalu seratus tahun lagi, sampai meng-hitam. Karenanya api neraka itu hitam kelam”

Keterangan al tirmidzi mengenai “nilai” hadis tersebut, menunjukkan bahwa dari sekian riwayat yang serupa matannya dengan hadis ini, hanya jalur transmisi inilah (yahya bin abi bukair-syarik-‘ashim bin bahdlah-abu sholih-abu huroiroh), yang tersambung sampai Nabi SAW. Sedangkan lainnya, hanya merupakan hadis – hadis yang mauquf.

Jalur ini juga dapat ditemukan dalam sunan ibn majah tetapi dengan redaksi matan yang sedikit berbeda :

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَتْ النَّارُ أَلْفَ سَنَةٍ فَابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَتْ أَلْفَ سَنَةٍ فَاحْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَتْ أَلْفَ سَنَةٍ فَاسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ كَاللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Adapun kwalitas rawinya, adalah tsiqot yang terpercaya kecuali ‘ashim bin bahdlah yang dinilai oleh Muhammad bin sa’ad dan beberapa ulama’ jarh sebagai tsiqot yang sering melakukan salah. Karenanya, hadis ini termasuk kategori hadis ‘aziz hasan.

Pengarang kitab Tuhfatul Afwadzi menyebutkan : Neraka itu berlapis - lapis, dan yang dipanasi adalah kesemuanya, di mana satu lapisan dipanasi di bawah lapisan yang lain, dan seterusnya. Pemakaian wazn “if’alla” dalam penyebutan perubahan warna neraka menunjukkan betapa sangat panasnya ia (lil mubalaghoh). Sedang berubahnya api itu hingga menjadi hitam sebagaimana malam, mengandung maknatahdzir, jangan sampai umat Islam melakukan pekerjaan yang menuju ke arah yang gelap. Jika sampai saat sekarang, kita baru bisa menemukan api biru sebagai api terpanas, maka entah perlu ribuan atau bahkan jutaan kali lipat usahakah, untuk menghasilkan api yang warnanya seperti tertulis dalam hadis tersebut.


Seberapa detail panasnya api neraka itu, jika diserupakan dengan api dunia yang biasa diketahui, adalah sebagaimana teriwayatkan : 

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا

”Apimu (api dunia yang biasaya kau jumpai) hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api jahannam, seseorang bertanya : bagaimana jika seluruhnya ?, nabi menjawab : tambahlah 69 bagian yang masing – masing bagian sama panasnya”


Namun, dalam riwayat shahih lain, imam Ahmad menyebutkan sebuah hadis gharib, bahwa perbandingan api dunia dengan api neraka adalah 1 : 100 dan bukan 1 : 70.


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذِهِ النَّارُ جُزْءٌ مِنْ مِائَةِ جُزْءٍ مِنْ جَهَنَّمَ

Mengenai dua perbedaan mencolok ini, Ibnu Hajar berkomentar : ”memahami dua hadis ini, kita harus menyatakan bahwa maksud utama dari hadis adalah untuk menyatakan ”banyak” tanpa harus dibatasi dengan jumlah riil (70 atau 100)” 

Sebuah Hadis terkenal lain yang merujuk pada makna ”sangat panasnya api neraka” dan yang maknanya sering dijadikan rujukan adalah yang diriwayatkan oleh ibn majah :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَيَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ نُفَيْعٍ أَبِي دَاوُدَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ نَارَكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَلَوْلَا أَنَّهَا أُطْفِئَتْ بِالْمَاءِ مَرَّتَيْنِ مَا انْتَفَعْتُمْ بِهَا وَإِنَّهَا لَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعِيدَهَا فِيهَا

Selain menyebut nash matan seperti hadis sebelumnya, Ibn Majah menambah kalimat “ dan jika api itu dipadamkan dengan air dua kali maka, sungguh (pekerjaan itu) tak berguna sama sekali (dan api itu akn tetap menyala), sesungguhnya api itu memohon kepada Allah agar agar Ia tak bisa dipadamkan olehnya.”

Hanya saja, ternyata riwayat ini tak bisa dipegangi sanadnya, ia adalah hadis ‘aziz dho’if yang hanya diriwayatkan oleh imam Ibn majah.

Sesungguhnya membayangkan tujuh puluh (atau seratus) kali lipat rasa dari api yang pernah kita temui, sama dengan mengatakan :”jika hanya dengan satu (kali) api, rumah, kampung, dan hutan bias terbakar, maka tak akan sesuatu di dunia yang tak kan bisa bertahan dari api yang panasnya seratus kali lipat dari api – api dunia.” Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari dzahir hadis tersebut. 

Topik lainnya, berkenaan dengan hal – ihwal neraka adalah bahwa ia tak hanya memiliki satu pintu. makna ini secara eksplisit tersirat dalam banyak hadis shahih yang mengabarkan tertutupnya pintu – pintu neraka ketika bulan Ramadhan

Meskipun harus diakui ada beberapa ulama’ hadis yang menganggap hadis ini sebagai kiasan atas terbelenggunya nafsu manusia sehingga terjauhkan dari hal – hal yang mengarah pada neraka, namun ada juga yang memilih makna implisit dari dzahir teks hadis tersebut. An nawawy bahkan menganggap dua kemungkinan makna ini bisa digunakan dalam penafsiran. Al qur’an menjelaskan :

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ , لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ 

”Jahannam itu memiliki tujuh pintu. Tiap – tiap pintu (telah ditetapkan untuk golongan yang tertentu”

Ke-tujuh pintu tersebut, disebut oleh Imam Ali bin Abi Tholib sebagai jahannam (yang paling bawah), di atasnya ada ladza, lalu hathomah, saqar, jahim, sa’ir, dan hawiyah.

Pernyataan ini, jika dipadankan dengan sebuah atsar dari Ali (sebagaimana yang dikutip oleh al thobary) :

”حدثني يعقوب، قال: ثنا ابن علية، عن أبي هارون الغنوي، عن حطان بن عبد الله، قال: قال عليّ: تدرون كيف أبواب النار؟ قلنا: نعم كنحو هذه الأبواب ، فقال: لا ولكنها هكذا ، فوصف أبو هارون أطباقا بعضها فوق بعض”

Menghasilkan pemahaman bahwa neraka bertingkat tujuh tingkatan, dan masing – masing tingkatan memiliki sebuah pintu.


Sebagai sebuah usaha penggambaran tentang keadaan manusia di dalam neraka, informasi – informasi seputarnya akan berkisar antara sebab dan proses ”perolehan siksa”, ”kekejaman para penjaganya”, dan atau ”kondisi – kondisi sangat tak bersahabat” di dalamnya. Ini berhubungan erat dengan, telah ditetapkannya neraka sebagai tempat ”pembagian siksa” sebagai balasan atas amal – amal jelek di dunia. Berikut penulis ketengahkan beberapa hadis tentang hal tersebut. Di bawah ini, adalah sebuah deskripsi, kenapa seorang wanita disiksa di dalam neraka :


حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ بْنُ أَسْمَاءَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ


“Ada seorang wanita yang di’adzab karena seekor kucing yang ia belenggu sampai ia mati, lalu tempat (wanita)itu dipenuhi dengan api. Ketika dalam belenggu itu, kucing itu tak diberinya makan dan minum, ia juga tak membiarkan kucing itu makan dari serangga bumi”

sekian dulu yang dapat saya jelaskan hari ini, semoga bermanfaat bagi kalian semua.. Aamiin :)

Jika anda ingin File MAKALAH yang sudah jadi, Silahkan download DISINI !!! :D